Orang Jawa sejak zaman dahulu telah memiliki cara pandang yang sangat unik terhadap kesehatan. Bagi mereka, sehat bukan sekadar tubuh bebas penyakit, tetapi sebuah keadaan selaras antara raga, jiwa, dan alam. Pandangan ini disebut sebagai urip selaras karo alam — hidup yang harmonis dengan alam semesta.
Di tengah modernisasi dan gaya hidup serba cepat, filosofi ini kembali relevan. Banyak orang kini mulai menyadari bahwa hidup sehat tidak bisa dicapai hanya dengan obat, tetapi harus dimulai dari pola pikir, pola makan, dan keseimbangan batin. Inilah yang menjadi dasar dari cara hidup orang Jawa yang penuh kearifan.
Konsep Kesehatan dalam Falsafah Jawa
Dalam budaya Jawa, konsep sehat sering digambarkan dengan istilah waras. Kata ini bukan sekadar “tidak sakit”, melainkan bermakna lebih dalam — yaitu kondisi ketika tubuh, pikiran, dan hati berada dalam keadaan damai.
Menurut falsafah Jawa, ada tiga aspek utama untuk mencapai waras:
- Raga (Tubuh):
Tubuh harus dijaga dengan makanan yang seimbang dan alami. Jamu menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan tubuh ini, karena terbuat dari bahan alami seperti kunyit, jahe, temulawak, dan kencur. - Rasa (Perasaan):
Pikiran dan hati harus dijaga dari rasa iri, marah, dan dendam. Orang Jawa percaya bahwa emosi negatif bisa membuat tubuh “panas dalam” dan menyebabkan penyakit. - Jiwo (Roh atau Batin):
Jiwa harus tenang, dekat dengan Tuhan, dan tidak serakah terhadap dunia. Ketenangan batin dianggap fondasi kesehatan yang paling utama.
Filosofi ini menunjukkan betapa orang Jawa memahami hubungan erat antara mental dan fisik, jauh sebelum sains modern membuktikannya.
Hubungan dengan Alam: Hidup Selaras dan Bersahaja
Prinsip utama hidup sehat orang Jawa adalah selaras dengan alam (urip sak madya) — hidup secukupnya dan tidak berlebihan.
Mereka percaya bahwa tubuh manusia adalah bagian dari alam, sehingga semua yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan sudah disediakan oleh bumi.
Itulah sebabnya jamu lahir dari kebijaksanaan ini. Setiap bahan jamu berasal dari alam — akar, daun, bunga, kulit kayu, atau rimpang — semuanya diramu sesuai kebutuhan. Misalnya:
- Beras kencur diminum untuk menambah tenaga dan menjaga kebugaran.
- Sinom membantu menurunkan panas dalam dan menyegarkan tubuh.
- Temulawak berguna untuk melancarkan pencernaan dan meningkatkan nafsu makan.
Dalam falsafah Jawa, ketika kita meminum jamu, bukan hanya tubuh yang dirawat, tetapi juga hubungan kita dengan alam yang dijaga.
Keseimbangan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Konsep hidup sehat orang Jawa juga tercermin dalam pepatah-pepatah tradisional. Misalnya:
- “Alon-alon waton kelakon” — perlahan tapi pasti, artinya jangan terburu-buru karena stres membuat tubuh mudah sakit.
- “Ojo ngoyo” — jangan memaksakan diri, karena keseimbangan lebih penting dari ambisi.
- “Ngunduh wohing pakarti” — kesehatan adalah hasil dari kebiasaan dan perilaku yang kita tanam.
Dari pepatah ini terlihat bahwa hidup sehat bukan hasil instan. Orang Jawa percaya pada proses dan ketenangan batin sebagai fondasi utama menjaga tubuh tetap kuat.
Jamu Sebagai Simbol Filosofi Hidup Sehat
Jamu tidak sekadar minuman tradisional — ia adalah manifestasi nyata dari filosofi hidup sehat orang Jawa.
Bahan-bahan jamu diambil dari alam, diproses dengan kesabaran, dan diminum dengan niat menjaga keseimbangan tubuh.
Di masa lalu, jamu tidak hanya diminum ketika sakit, tapi juga sebagai bagian dari ritual harian. Misalnya, minum beras kencur setiap pagi untuk semangat, atau kunyit asam bagi perempuan agar tubuh tetap segar.
Bahkan, dalam budaya Jawa, ada ritual membuat jamu dengan doa. Saat menumbuk bahan, pembuat jamu akan melafalkan harapan agar ramuan membawa manfaat dan kebaikan bagi yang meminumnya.
Hal ini mencerminkan filosofi bahwa niat dan energi positif juga berpengaruh pada kesehatan seseorang.
Spiritualitas dan Ketenangan Batin
Bagi orang Jawa, hidup sehat tidak bisa dipisahkan dari spiritualitas. Seseorang dianggap benar-benar sehat jika hatinya tentrem — damai, ikhlas, dan bersyukur.
Prinsip ini masih bisa kita lihat dalam kebiasaan orang tua dulu yang selalu memulai hari dengan doa dan minum air putih atau jamu hangat.
Spiritualitas ini juga mendorong kesadaran bahwa tubuh harus dijaga, bukan dieksploitasi. Mereka tidak berlebihan dalam makan, tidak begadang tanpa alasan, dan selalu menghormati waktu istirahat.
Hidup yang tata tentrem kerta raharja — tertata, tenang, dan sejahtera — menjadi cita-cita kesehatan sejati.
Menghidupkan Kembali Nilai Jawa di Era Modern
Kini, banyak generasi muda mulai melupakan nilai-nilai luhur ini.
Kesehatan sering diartikan sebatas tubuh ideal atau gaya hidup mahal. Padahal, orang Jawa telah menunjukkan bahwa hidup sederhana dan alami bisa membuat umur panjang dan hati bahagia.
Dengan menghidupkan kembali filosofi ini, kita bisa membangun gaya hidup sehat yang lebih berkelanjutan.
Contohnya:
- Mengganti minuman kemasan dengan jamu alami seperti beras kencur Jatra.
- Menyediakan waktu untuk istirahat dan refleksi diri.
- Menjalani hidup secukupnya dan tidak serakah terhadap waktu maupun materi.
Filosofi ini sangat cocok diterapkan di masa kini, terutama bagi mereka yang ingin hidup lebih mindful dan dekat dengan alam.
Filosofi hidup sehat orang Jawa mengajarkan bahwa kesehatan sejati bukanlah hasil dari obat mahal, tetapi dari keseimbangan hidup — antara raga, rasa, dan jiwa.
Jamu menjadi simbol konkret dari harmoni ini, karena ia menyatukan alam, budaya, dan niat baik dalam satu ramuan.
Sebagai penerus warisan Nusantara, kita bisa belajar untuk kembali ke akar — minum jamu, makan alami, dan hidup penuh kesadaran.
Karena seperti kata pepatah Jawa:
“Sak madya wae, aja ngluwihi, aja kurang.”
(Hiduplah secukupnya, jangan berlebihan, jangan kekurangan.)
Filosofi sederhana ini adalah kunci untuk menjaga tubuh tetap sehat, pikiran tenang, dan hati bahagia — sebuah kearifan yang tetap relevan di tengah dunia modern.
Belum ada komentar